Tabat Barito (Ficus deltoidea), tanaman herbal Asia Tenggara yang memiliki beragam senyawa bioaktif dan masih terus diteliti.
Indonesia dan kawasan Asia Tenggara memiliki kekayaan tanaman yang luar biasa. Sebagian sudah sangat dikenal seperti jahe, kunyit, temulawak, sambiloto, dan daun kelor. Namun, masih banyak tanaman lain yang tidak begitu dikenal masyarakat, padahal telah lama digunakan secara tradisional dan menarik perhatian para peneliti.
Salah satunya adalah Tabat Barito, tanaman dengan nama ilmiah Ficus deltoidea Jack.
Tanaman ini mungkin belum sepopuler tanaman herbal lainnya. Namun, berbagai penelitian telah menemukan beragam senyawa bioaktif di dalam Ficus deltoidea dan meneliti potensinya dalam bidang antioksidan, peradangan, metabolisme gula darah, antimikroba, serta beberapa aktivitas biologis lainnya.
Menariknya, penelitian terhadap tanaman ini tidak berhenti pada pengetahuan tradisional. Sampai tahun 2026, Ficus deltoidea masih menjadi objek penelitian ilmiah untuk mengetahui lebih jauh kandungan, mekanisme kerja, manfaat potensial, dan keamanannya.
Lalu, apa sebenarnya Tabat Barito? Mengapa tanaman ini menarik untuk diteliti? Apa saja kandungannya dan apa manfaatnya bagi kesehatan?
Mari kita mengenalnya lebih dekat.
Apa Itu Tabat Barito?
Tabat Barito merupakan salah satu tumbuhan dari genus Ficus dan termasuk keluarga Moraceae.
Nama ilmiahnya adalah Ficus deltoidea Jack. Di beberapa wilayah Asia Tenggara, tanaman ini mempunyai nama lokal yang berbeda. Di Malaysia, misalnya, tanaman ini dikenal sebagai Mas Cotek. Literatur ilmiah juga mencatat nama lokal lain seperti Telinga Beruk dan Serapat Angin. Di Indonesia, salah satu nama yang digunakan adalah Tabat Barito.
Tanaman ini berupa semak hijau dengan daun yang relatif tebal. Daunnya mempunyai bentuk yang khas dan buahnya berbentuk bulat kecil seperti buah ara.
Ficus deltoidea merupakan tumbuhan yang berasal dari kawasan Malayan Archipelago dan penyebarannya mencakup wilayah Malesia, termasuk Indonesia dan Malaysia.
Mengapa Tabat Barito Menarik untuk Dikenal?
Ada dua alasan utama.
Pertama, tanaman ini mempunyai sejarah penggunaan dalam pengobatan tradisional di masyarakat Melayu.
Kedua, penelitian modern menemukan bahwa tanaman ini mengandung berbagai kelompok senyawa yang secara biologis menarik untuk dipelajari.
Review ilmiah menyebutkan bahwa Ficus deltoidea mengandung kelompok senyawa seperti flavonoid, fenolik, saponin, terpenoid, sterol, alkaloid, serta berbagai metabolit lainnya.
Di antara senyawa yang telah menjadi perhatian penelitian adalah vitexin dan isovitexin.
Keberadaan berbagai senyawa tersebut tidak berarti Tabat Barito otomatis menjadi obat untuk berbagai penyakit. Namun, kandungan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa tanaman ini menarik untuk diteliti lebih lanjut.
Tabat Barito dalam Pengobatan Tradisional
Penggunaan tradisional Ficus deltoidea telah berlangsung cukup lama di masyarakat Melayu.
Literatur ilmiah mencatat penggunaan bagian daun dan akar dalam pengobatan tradisional untuk berbagai keluhan, antara lain luka, koreng, dan rematik. Rebusan daun juga secara tradisional digunakan berkaitan dengan pengelolaan gula darah serta sebagai ramuan setelah melahirkan. Buahnya juga pernah digunakan secara tradisional untuk beberapa keluhan seperti sakit gigi, pilek, dan sakit kepala.
Catatan seperti ini penting karena penggunaan tradisional sering menjadi salah satu titik awal bagi penelitian ilmiah mengenai tanaman obat.
Namun, penggunaan tradisional tidak sama dengan bukti klinis. Khasiat yang dipercaya secara turun-temurun masih perlu diuji dengan metode ilmiah untuk mengetahui efektivitas, dosis, mekanisme kerja, dan keamanannya.
Pilihan Produk Tabat Barito
Jika Anda ingin mengenal Tabat Barito lebih jauh, berikut beberapa pilihan yang dapat dilihat.
Catatan: HerbalBerkah dapat memperoleh komisi dari pembelian melalui tautan affiliate.
Informasi produk mengikuti keterangan penjual di Shopee.
Kandungan Senyawa dalam Tabat Barito
Penelitian fitokimia terhadap Ficus deltoidea menemukan berbagai kelompok senyawa.
Kelompok senyawa
Keterangan
Flavonoid
Banyak diteliti karena aktivitas biologis dan antioksidannya
Fenolik
Berkaitan dengan aktivitas antioksidan dalam berbagai penelitian
Terpenoid
Kelompok metabolit tumbuhan dengan berbagai aktivitas biologis
Saponin
Ditemukan dalam berbagai penelitian fitokimia tanaman
Sterol
Salah satu kelompok senyawa yang ditemukan dalam tanaman
Alkaloid
Kelompok senyawa bioaktif yang juga dilaporkan terdapat dalam Ficus deltoidea
Vitexin dan isovitexin
Senyawa flavonoid yang menjadi objek berbagai penelitian
Kandungan kimia tanaman dapat berbeda tergantung bagian tanaman yang digunakan, kondisi tumbuh, varietas, lokasi, serta metode ekstraksi. Karena itu, tidak tepat menganggap semua produk Tabat Barito mempunyai kandungan dan kekuatan yang sama.
Potensi Antioksidan Tabat Barito
Salah satu bidang penelitian yang menarik dari Ficus deltoidea adalah aktivitas antioksidannya.
Antioksidan merupakan senyawa yang dapat membantu menangkal atau mengendalikan proses oksidasi tertentu di dalam sistem biologis. Flavonoid dan senyawa fenolik dari tumbuhan merupakan kelompok senyawa yang banyak diteliti dalam konteks tersebut.
Sejumlah penelitian terhadap ekstrak Ficus deltoidea menunjukkan aktivitas antioksidan. Temuan ini menjadi salah satu dasar untuk penelitian lebih lanjut mengenai potensi tanaman tersebut.
Namun perlu dibedakan antara aktivitas antioksidan dalam penelitian laboratorium dengan manfaat kesehatan langsung pada manusia.
Hasil penelitian laboratorium belum otomatis berarti bahwa mengonsumsi tanaman tersebut akan memberikan efek kesehatan yang sama.
Potensi Berkaitan dengan Metabolisme Gula Darah
Tabat Barito juga menarik karena sejak dahulu digunakan secara tradisional di beberapa wilayah berkaitan dengan pengelolaan gula darah.
Penelitian eksperimental kemudian mencoba mengetahui apakah penggunaan tradisional tersebut mempunyai dasar biologis.
Beberapa penelitian menemukan bahwa ekstrak Ficus deltoidea dapat memengaruhi pengambilan glukosa oleh sel serta menghambat aktivitas enzim alpha-glucosidase dalam model penelitian tertentu. Penelitian pada hewan juga memberikan hasil yang menarik berkaitan dengan kadar glukosa setelah pemberian karbohidrat.
Review ilmiah terbaru tahun 2026 masih menyebut potensi Ficus deltoidea dalam bidang metabolik sebagai salah satu area penelitian yang menjanjikan, tetapi juga menegaskan perlunya penelitian lebih lanjut untuk memastikan efektivitas terapeutiknya.
Jadi, kita sebaiknya mengatakan:
“Tabat Barito sedang diteliti karena berpotensi berkaitan dengan metabolisme gula darah.”
Bukan:
“Tabat Barito dapat menyembuhkan diabetes.”
Perbedaan kalimat tersebut sangat penting agar informasi herbal tidak berubah menjadi klaim pengobatan yang belum terbukti.
Potensi Anti-Inflamasi
Peradangan merupakan proses biologis yang kompleks. Karena itu, aktivitas tanaman terhadap mekanisme peradangan menjadi salah satu bidang yang banyak dipelajari dalam penelitian obat alami.
Ekstrak Ficus deltoidea telah menunjukkan aktivitas anti-inflamasi dalam beberapa penelitian eksperimental. Hal tersebut menjadi salah satu alasan tanaman ini terus dipelajari.
Akan tetapi, penelitian eksperimental tidak dapat langsung disamakan dengan pengobatan penyakit peradangan pada manusia.
Masih diperlukan penelitian klinis untuk mengetahui apakah efek tersebut benar-benar memberikan manfaat yang bermakna dan aman pada manusia.
Potensi Antimikroba
Bidang lain yang menarik adalah aktivitas antimikroba.
Sejumlah penelitian terhadap Ficus deltoidea dan senyawa yang terkandung di dalamnya menunjukkan aktivitas terhadap mikroorganisme tertentu dalam penelitian laboratorium.
Temuan seperti ini belum berarti Tabat Barito dapat menggantikan antibiotik atau obat antimikroba yang diresepkan dokter.
Namun, dari sudut pandang penelitian tanaman obat, temuan tersebut menarik karena tumbuhan dapat menjadi sumber senyawa alami yang kemudian dipelajari lebih lanjut.
Masih Banyak Potensi yang Sedang Diteliti
Penelitian terhadap Ficus deltoidea tidak hanya berkaitan dengan antioksidan dan gula darah.
Review ilmiah tahun 2026 mengelompokkan berbagai penelitian mengenai tanaman ini ke dalam beberapa bidang, termasuk metabolisme, sistem kardiovaskular, sistem imun, peradangan, aktivitas antimikroba, regenerasi jaringan, kesehatan tulang, dan kesehatan reproduksi.
Namun sekali lagi, tingkat bukti untuk masing-masing manfaat tidak sama.
Sebagian hasil berasal dari penelitian sel atau laboratorium, sebagian dari penelitian hewan, dan bukti klinis pada manusia masih jauh lebih terbatas.
Karena itu, semakin banyak penelitian justru membuat kita semakin perlu berhati-hati dalam menyampaikan informasi.
Apakah Tabat Barito Bisa Disebut Obat?
Dalam pembicaraan sehari-hari, masyarakat mungkin menyebut Tabat Barito sebagai tanaman obat karena telah digunakan secara tradisional.
Namun dalam konteks ilmiah dan medis, istilah “obat” mempunyai makna yang lebih ketat.
Untuk membuktikan suatu bahan sebagai terapi penyakit tertentu diperlukan penelitian yang memadai, termasuk penelitian keamanan, dosis, efektivitas, mekanisme kerja, interaksi dengan obat lain, serta uji klinis pada manusia.
Karena itu, untuk saat ini lebih tepat menyebut Tabat Barito sebagai tanaman herbal yang mempunyai berbagai potensi farmakologis dan masih terus diteliti.
Apakah Tabat Barito Aman?
Keamanan adalah bagian yang tidak boleh dilupakan ketika membicarakan tanaman herbal.
“Alami” tidak selalu berarti “aman untuk semua orang”. Keamanan suatu tanaman dapat dipengaruhi oleh dosis, bagian tanaman yang digunakan, cara pengolahan, lama penggunaan, serta kondisi kesehatan orang yang menggunakannya.
Penelitian mengenai Ficus deltoidea memang telah mencakup aspek toksisitas, tetapi informasi keamanan belum berarti bahwa semua bentuk dan dosis penggunaan telah terbukti aman untuk semua orang. Literatur ilmiah juga menekankan perlunya penelitian lebih lanjut mengenai komponen aktif, mekanisme kerja, farmakokinetik, dan aspek keamanan.
Orang yang sedang mengonsumsi obat dokter, terutama untuk penyakit kronis, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan sebelum menggunakan ekstrak herbal secara rutin.
Jangan Mudah Tergoda Klaim “Herbal Menyembuhkan Semua Penyakit”
Semakin menarik sebuah tanaman, semakin mudah pula muncul klaim yang berlebihan.
Tabat Barito merupakan contoh yang baik untuk memahami perbedaan antara potensi dan bukti pengobatan.
Penelitian mungkin menunjukkan bahwa ekstrak tanaman mempunyai aktivitas antioksidan atau memengaruhi mekanisme tertentu di laboratorium. Tetapi dari sana masih ada perjalanan panjang sebelum dapat dikatakan bahwa tanaman tersebut mampu mengobati penyakit tertentu pada manusia.
Karena itu, pembaca HerbalBerkah.com sebaiknya selalu memperhatikan sumber informasi dan tidak mengganti pengobatan dokter hanya berdasarkan informasi mengenai tanaman herbal.
Tabat Barito dan Kekayaan Tanaman Herbal Asia Tenggara
Tabat Barito mengingatkan kita bahwa kekayaan tanaman obat tidak hanya terdiri dari tanaman yang sudah sangat populer.
Banyak tanaman yang tumbuh di kawasan tropis mempunyai sejarah penggunaan tradisional yang panjang. Sebagian di antaranya kemudian menjadi objek penelitian modern karena mengandung senyawa bioaktif yang menarik.
Genus Ficus sendiri merupakan kelompok tumbuhan yang sangat besar dan berbagai spesiesnya telah dipelajari karena kandungan fitokimia serta aktivitas biologisnya.
Namun kekayaan tersebut harus diimbangi dengan pengetahuan dan pelestarian. Tanaman obat bukan hanya bahan yang dapat dimanfaatkan, tetapi juga bagian dari kekayaan hayati yang perlu dijaga.
Kesimpulan
Tabat Barito (Ficus deltoidea Jack) merupakan tanaman herbal yang mungkin belum banyak dikenal masyarakat, tetapi mempunyai sejarah panjang dalam pengobatan tradisional di Asia Tenggara.
Penelitian telah menemukan berbagai kelompok senyawa bioaktif di dalamnya, termasuk flavonoid, senyawa fenolik, terpenoid, saponin, sterol, dan alkaloid. Sejumlah penelitian juga menunjukkan potensi aktivitas antioksidan, anti-inflamasi, antimikroba, serta aktivitas yang berkaitan dengan metabolisme gula darah.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa Tabat Barito masih menjadi tanaman yang menarik untuk diteliti. Namun, sebagian besar bukti yang tersedia masih berasal dari penelitian laboratorium dan hewan, sedangkan bukti klinis pada manusia masih membutuhkan penguatan.
Dengan demikian, Tabat Barito sebaiknya kita kenal sebagai tanaman herbal yang mempunyai potensi menarik untuk kesehatan dan masih terus dipelajari, bukan sebagai obat untuk segala macam penyakit.
Semakin kita mengenal tanaman herbal, semakin kita perlu menghargai dua hal: kekayaan alam dan bukti ilmiah.
Nama ilmiah Tabat Barito adalah Ficus deltoidea Jack, salah satu tumbuhan dari keluarga Moraceae.
Apa nama lain Tabat Barito?
Di Malaysia tanaman ini dikenal antara lain sebagai Mas Cotek. Literatur juga mencatat beberapa nama lokal lainnya di kawasan Asia Tenggara.
Apa kandungan Tabat Barito?
Penelitian melaporkan adanya berbagai kelompok senyawa seperti flavonoid, fenolik, terpenoid, saponin, sterol, alkaloid, serta beberapa senyawa spesifik seperti vitexin dan isovitexin.
Apakah Tabat Barito dapat mengobati diabetes?
Penelitian eksperimental menunjukkan potensi yang berkaitan dengan metabolisme glukosa, tetapi bukti klinis pada manusia masih terbatas. Karena itu, Tabat Barito tidak sebaiknya dianggap sebagai pengganti obat diabetes yang diresepkan dokter.
Apakah Tabat Barito mengandung antioksidan?
Berbagai penelitian terhadap ekstrak Ficus deltoidea menunjukkan aktivitas antioksidan. Namun, hasil penelitian laboratorium tidak otomatis menunjukkan efek yang sama ketika tanaman dikonsumsi manusia.
Apakah Tabat Barito aman dikonsumsi?
Keamanan bergantung pada bagian tanaman, bentuk sediaan, dosis, lama penggunaan, serta kondisi orang yang menggunakannya. Penelitian keamanan masih perlu terus dikembangkan. Orang yang menggunakan obat dokter sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu sebelum menggunakan ekstrak herbal secara rutin.
Mengapa Tabat Barito menarik untuk diteliti?
Karena tanaman ini memiliki sejarah penggunaan tradisional dan mengandung berbagai senyawa bioaktif. Penelitian modern menemukan sejumlah aktivitas biologis yang menarik sehingga tanaman ini masih terus diteliti.
Referensi Ilmiah
Bunawan H, Mat Amin N, Bunawan SN, Baharum SN, Mohd Noor N. Ficus deltoidea Jack: A Review on Its Phytochemical and Pharmacological Importance. Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine. 2014.
Ashraf K, Haque MR, Amir M, Ahmad N, et al. An Overview of Phytochemical and Biological Activities: Ficus deltoidea Jack and Other Ficus spp. Journal of Pharmacy and Bioallied Sciences. 2021.
Tan CY, Choo YM. Therapeutic Applications of Ficus deltoidea: An Integrative Review of Its Pharmacological Properties. Current Medicinal Chemistry. 2026.
Catatan: Artikel ini bersifat informatif dan bukan pengganti diagnosis atau pengobatan medis. Jangan menghentikan atau mengganti obat yang diresepkan dokter tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
✔ Sambiloto + Pegagan
✔ Dipadukan Alang-alang
✔ Membantu menjaga kesehatan tubuh
*Produk di atas dipilih sebagai referensi herbal. Bacalah petunjuk penggunaan pada kemasan dan konsultasikan dengan tenaga kesehatan apabila memiliki kondisi medis tertentu.
Daya ingat adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada manusia. Dengan daya ingat yang baik, seseorang dapat belajar, bekerja, beribadah, menghafal Al-Qur’an, serta menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih baik. Namun, seiring bertambahnya usia, kemampuan mengingat sering mengalami penurunan. Karena itu, menjaga kesehatan otak tidak seharusnya dimulai ketika sudah lanjut usia. Justru upaya menjaga…
Sambiloto merupakan tanaman herbal yang kaya andrographolide dan telah lama dimanfaatkan untuk membantu menjaga sistem kekebalan tubuh secara alami. Sambiloto telah lama dikenal sebagai salah satu tanaman herbal yang memiliki rasa sangat pahit. Meskipun rasanya kurang disukai, tanaman ini sejak dahulu digunakan dalam pengobatan tradisional untuk membantu menjaga daya tahan tubuh dan membantu tubuh menghadapi…
Indonesia memiliki banyak tanaman obat yang belum begitu dikenal masyarakat. Artikel ini mengenalkan tujuh tanaman herbal yang menarik untuk diketahui, termasuk penggunaan tradisional, kandungan yang diteliti, serta pentingnya menjaga kelestariannya.
Gangguan lambung dan pencernaan merupakan keluhan yang sering dialami masyarakat. Pola makan yang tidak teratur, makanan pedas, stres, hingga kebiasaan mengonsumsi kopi atau makanan instan dapat memicu rasa tidak nyaman pada lambung. Keluhan seperti perut terasa perih, kembung, mual, sering bersendawa, atau cepat kenyang sering kali mengganggu aktivitas sehari-hari. Selain menerapkan pola hidup sehat dan…