Sebagian kekayaan tanaman herbal Indonesia masih jarang dikenal dan perlu terus dipelajari serta dilestarikan.
Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Di antara ribuan jenis tumbuhan yang tumbuh di Nusantara, ada 7 tanaman herbal langka Indonesia yang menarik untuk dikenal yang sejak dahulu dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan obat tradisional.
Namun, tidak semuanya dikenal luas seperti kunyit, jahe, temulawak, atau daun sirih. Sebagian tanaman obat justru hanya dikenal di daerah tertentu, digunakan oleh masyarakat setempat, atau belum banyak mendapatkan perhatian dari masyarakat luas.
Beberapa di antaranya bahkan pernah tercatat dalam koleksi spesies tumbuhan obat yang dikategorikan langka dalam kegiatan konservasi tanaman obat. Salah satu daftar dari Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik mencatat antara lain tabat barito, akar kuning, sintok, sanrego, purwoceng, pule pandak, dan kepel.
Karena itu, mengenal tanaman-tanaman tersebut bukan hanya mengenai kemungkinan manfaatnya bagi kesehatan. Lebih dari itu, kita juga dapat mengenal kekayaan hayati dan pengetahuan tradisional yang diwariskan masyarakat Indonesia.
1. Akar Kuning (Arcangelisia flava)
Akar kuning merupakan tanaman yang cukup menarik karena bagian batang atau akarnya memiliki warna kuning yang khas. Tanaman ini digunakan secara tradisional di beberapa wilayah Indonesia dan Asia Tenggara.
Penelitian terhadap Arcangelisia flava menemukan berbagai kelompok senyawa bioaktif, termasuk alkaloid, flavonoid, tanin, dan senyawa fenolik. Sejumlah penelitian praklinis juga meneliti aktivitas antioksidan, antimikroba, antiinflamasi, serta aktivitas yang berkaitan dengan metabolisme glukosa.
Namun, menarik untuk diperhatikan bahwa bukti tersebut belum berarti akar kuning telah terbukti sebagai obat untuk berbagai penyakit pada manusia. Salah satu tinjauan tahun 2024 secara khusus menyebutkan bahwa bukti klinis pada manusia masih belum tersedia.
Inilah contoh penting ketika kita membicarakan tanaman herbal: hasil penelitian laboratorium atau hewan tidak boleh langsung dianggap sama dengan khasiat yang sudah terbukti pada manusia.
2. Sanrego (Lunasia amara)
Sanrego merupakan tanaman yang mungkin belum begitu dikenal oleh masyarakat umum. Dalam literatur tumbuhan obat Asia Tenggara, tanaman ini juga dikenal dengan beberapa nama daerah seperti kemaitan, pingsang, dan bungkus kusu.
PROSEA mencatat bahwa Lunasia amara terdapat di wilayah Filipina, Borneo, Jawa bagian timur hingga wilayah yang lebih ke timur. Dalam pengobatan tradisional Indonesia, rebusan kulit batang dan daun antara lain digunakan secara tradisional pada bagian tubuh yang mengalami pembengkakan serta untuk masalah kulit.
Sanrego menarik untuk diperhatikan karena tanaman seperti ini menunjukkan betapa luasnya pengetahuan pengobatan tradisional masyarakat di berbagai daerah.
Walaupun demikian, penggunaan tradisional tetap perlu dibedakan dari bukti klinis. Penelitian mengenai kandungan dan aktivitas biologis tanaman dapat menjadi dasar untuk penelitian berikutnya, tetapi belum otomatis membuktikan efektivitasnya sebagai obat.
3. Purwoceng (Pimpinella pruatjan)
Purwoceng merupakan tanaman yang cukup terkenal dalam pembahasan tanaman obat dari kawasan pegunungan Jawa, tetapi masih jauh lebih jarang dikenal dibandingkan tanaman herbal populer seperti jahe dan kunyit.
Purwoceng menarik perhatian terutama karena secara tradisional dikaitkan dengan kesehatan pria. Tanaman ini juga menjadi salah satu tanaman obat yang pernah masuk dalam daftar tanaman yang mendapat perhatian dalam kegiatan konservasi.
Keberadaan purwoceng mengingatkan kita bahwa tanaman obat tidak hanya penting karena kemungkinan manfaatnya, tetapi juga karena keberadaannya sebagai bagian dari kekayaan tumbuhan Indonesia.
Untuk penggunaan kesehatan, diperlukan kehati-hatian dalam membedakan antara penggunaan tradisional, hasil penelitian praklinis, dan bukti klinis pada manusia.
4. Kepel (Stelechocarpus burahol)
Kepel adalah salah satu tanaman Indonesia yang memiliki cerita budaya yang menarik. Buahnya secara tradisional dikonsumsi dan juga dikenal berkaitan dengan penggunaan sebagai pewangi alami tubuh.
Dalam beberapa tahun terakhir, kepel kembali mendapatkan perhatian penelitian karena kandungan senyawa bioaktifnya. Kajian tahun 2025 menyebutkan adanya penelitian mengenai aktivitas antioksidan, antiinflamasi, antibakteri, antidiabetes, dan aktivitas biologis lainnya. Namun sebagian besar bukti tersebut masih berasal dari penelitian praklinis.
Menariknya, kajian tersebut juga menyebutkan bahwa populasi alami kepel mengalami penurunan dan tanaman ini mendapat perhatian dalam upaya konservasi.
Dengan demikian, mengenal kepel bukan sekadar mencari manfaat herbal. Kita juga perlu memikirkan bagaimana tanaman tersebut dapat terus dilestarikan.
5. Sintok (Cinnamomum sintoc)
Sintok merupakan salah satu tanaman yang masuk dalam daftar spesies tumbuhan obat yang pernah mendapat perhatian dalam konservasi ex-situ tanaman obat di Indonesia.
Nama sintok mungkin terdengar asing bagi sebagian besar masyarakat. Padahal, tanaman dari kelompok Cinnamomum menarik untuk dipelajari karena berbagai jenisnya dikenal menghasilkan minyak atsiri dan senyawa metabolit sekunder.
Seperti halnya tanaman herbal lainnya, keberadaan kandungan kimia tertentu tidak otomatis berarti tanaman tersebut dapat digunakan sebagai pengganti obat medis.
Justru penelitian terhadap tanaman seperti sintok penting untuk mengetahui secara lebih tepat kandungan, aktivitas biologis, keamanan, serta kemungkinan pemanfaatannya.
6. Pule Pandak (Rauvolfia serpentina)
Pule pandak merupakan tanaman obat yang memiliki sejarah panjang dalam pengobatan tradisional Asia. Tanaman ini juga pernah tercatat dalam daftar spesies tumbuhan obat yang mendapatkan perhatian dalam konservasi di Indonesia.
Tanaman ini menarik secara ilmiah karena kelompok Rauvolfia dikenal menghasilkan berbagai alkaloid. Karena kandungan senyawa aktifnya dapat memiliki aktivitas biologis yang kuat, penggunaannya tidak sebaiknya dilakukan secara sembarangan.
Hal ini menjadi pengingat bahwa istilah “alami” tidak selalu berarti “bebas risiko”. Tanaman yang memiliki senyawa aktif tetap perlu dipelajari mengenai dosis, keamanan, interaksi dengan obat lain, dan kondisi orang yang menggunakannya.
7. Tabat Barito (Ficus deltoidea)
Tabat Barito menjadi salah satu tanaman yang menarik karena tumbuh sebagai bagian dari kekayaan tumbuhan Indonesia dan telah lama dikenal dalam penggunaan tradisional.
Tanaman ini juga tercatat dalam daftar spesies tumbuhan obat yang pernah mendapatkan perhatian dalam konservasi ex-situ di Indonesia.
Berbagai penelitian telah mempelajari kandungan fitokimia dan aktivitas biologis Ficus deltoidea, termasuk kelompok flavonoid, senyawa fenolik, terpenoid, dan beberapa kelompok metabolit lainnya.
Penelitian terhadap tanaman ini terus berkembang. Namun, seperti tanaman herbal lainnya, potensi yang ditemukan dalam penelitian tidak boleh langsung dianggap sebagai bukti bahwa tanaman tersebut dapat menyembuhkan penyakit tertentu.
HerbalBerkah sebelumnya juga telah membahas Tabat Barito secara lebih khusus bagi pembaca yang ingin mengenal tanaman ini lebih jauh.
Pilihan Produk Tanaman Herbal
Beberapa produk tanaman yang dibahas dalam artikel ini dapat Anda lihat melalui Shopee.
Catatan: HerbalBerkah dapat memperoleh komisi dari pembelian melalui tautan affiliate.
Informasi produk mengikuti keterangan penjual di Shopee.
Mengapa Tanaman Herbal yang Jarang Dikenal Perlu Dilestarikan?
Ketika berbicara mengenai tanaman herbal, perhatian masyarakat sering tertuju pada tanaman yang sudah populer dan mudah ditemukan.
Padahal, pengetahuan masyarakat di berbagai daerah menunjukkan bahwa masih banyak tanaman yang digunakan secara tradisional dan belum banyak dikenal di luar wilayah asalnya.
Sebuah tinjauan sistematis terbaru mengenai etnobotani Indonesia menemukan 791 spesies tanaman obat dari berbagai penelitian masyarakat di Indonesia. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa dokumentasi pengetahuan tanaman obat masih belum merata di seluruh wilayah Nusantara, terutama kawasan Indonesia bagian timur.
Artinya, masih mungkin terdapat banyak pengetahuan mengenai tumbuhan obat yang belum terdokumentasikan secara baik.
Melestarikan tanaman herbal juga berarti menjaga sumber daya alam sekaligus menjaga pengetahuan tradisional agar tidak hilang.
Tanaman Herbal Bukan Berarti Tanpa Risiko
Minat terhadap tanaman herbal memang semakin besar. Namun, penggunaan tanaman obat sebaiknya tetap dilakukan dengan pengetahuan yang cukup.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
Kenali nama tanaman dengan benar karena beberapa tanaman memiliki nama daerah yang berbeda.
Jangan menyamakan penggunaan tradisional dengan bukti klinis.
Perhatikan bagian tanaman yang digunakan karena akar, batang, daun, bunga, dan buah dapat memiliki kandungan yang berbeda.
Jangan menganggap semua tanaman alami pasti aman.
Jika sedang menggunakan obat dokter, pertimbangkan kemungkinan interaksi antara herbal dan obat.
Untuk penyakit tertentu, jangan mengganti pengobatan medis tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
WHO juga menekankan pentingnya penelitian, bukti ilmiah, keberlanjutan, dan penghormatan terhadap pengetahuan masyarakat dalam pengembangan pengobatan tradisional.
Penutup
Indonesia memiliki kekayaan tanaman obat yang sangat besar. Sebagian sudah sangat dikenal, sementara sebagian lainnya masih jarang diketahui masyarakat.
Akar kuning, sanrego, purwoceng, kepel, sintok, pule pandak, dan Tabat Barito hanyalah beberapa contoh tanaman yang menarik untuk kita kenal lebih dekat.
Yang paling penting bukan sekadar mencari tanaman mana yang dianggap paling berkhasiat. Kita perlu belajar mengenal tanaman tersebut, memahami bukti ilmiahnya, memperhatikan keamanannya, serta ikut menjaga kelestariannya.
Kekayaan tanaman herbal Indonesia bukan hanya warisan alam, tetapi juga bagian dari pengetahuan dan budaya yang patut dipelajari serta dijaga untuk generasi berikutnya.
FAQ: Tanaman Herbal Langka Indonesia
Apakah semua tanaman dalam artikel ini benar-benar langka?
Tidak selalu. Istilah “langka” dalam artikel ini digunakan dalam konteks tanaman yang jarang dikenal atau pernah mendapatkan perhatian dalam daftar konservasi tanaman obat. Status kelangkaan setiap spesies dapat berbeda menurut wilayah dan kondisi populasinya.
Apakah tanaman herbal dapat menyembuhkan penyakit?
Tidak dapat disimpulkan hanya dari penggunaan tradisional atau penelitian laboratorium. Efektivitas dan keamanan untuk manusia perlu didukung oleh penelitian yang sesuai, terutama penelitian klinis.
Apakah tanaman herbal aman karena berasal dari alam?
Belum tentu. Tanaman dapat mengandung senyawa aktif yang mempunyai efek biologis dan berpotensi berinteraksi dengan obat atau kondisi kesehatan tertentu.
Mengapa tanaman obat perlu dilestarikan?
Karena tanaman obat merupakan bagian dari keanekaragaman hayati sekaligus sumber pengetahuan tradisional dan bahan penelitian. Hilangnya suatu spesies dapat berarti hilangnya sumber daya alam dan pengetahuan yang menyertainya.
Apakah penelitian tanaman herbal masih diperlukan?
Ya. Penelitian diperlukan untuk mengetahui kandungan aktif, mekanisme kerja, manfaat, keamanan, dosis, serta kemungkinan interaksi dengan obat lain secara lebih baik.
Sumber Referensi
Farisa, U. Z., Hikmat, A., & Hadipoentyanti, E. (2012). Konservasi Ex-situ spesies tumbuhan obat langka di Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balittro) Bogor.
Pratama, R. R., et al. (2024). A Review of Ethnomedicine, Phytochemistry, and Pharmacological Studies on Yellow Roots (Arcangelisia flava).
Zahroh, E. W., Mayasari, D., & Azzizah, I. N. (2025). Bioactive Compounds of Stelechocarpus burahol (Kepel) from Indonesia for Future Perspective of Health.
PROSEA. Lunasia amara Blanco.
World Health Organization. Traditional medicine biodiversity and Indigenous Knowledges.
Catatan: Artikel ini bersifat informatif dan tidak dimaksudkan untuk menggantikan diagnosis atau pengobatan dari tenaga kesehatan.
Pilihan Produk Tanaman Herbal
Beberapa produk tanaman yang dibahas dalam artikel ini dapat Anda lihat melalui Shopee.
Gangguan lambung dan pencernaan merupakan keluhan yang sering dialami masyarakat. Pola makan yang tidak teratur, makanan pedas, stres, hingga kebiasaan mengonsumsi kopi atau makanan instan dapat memicu rasa tidak nyaman pada lambung. Keluhan seperti perut terasa perih, kembung, mual, sering bersendawa, atau cepat kenyang sering kali mengganggu aktivitas sehari-hari. Selain menerapkan pola hidup sehat dan…
Daya ingat adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada manusia. Dengan daya ingat yang baik, seseorang dapat belajar, bekerja, beribadah, menghafal Al-Qur’an, serta menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih baik. Namun, seiring bertambahnya usia, kemampuan mengingat sering mengalami penurunan. Karena itu, menjaga kesehatan otak tidak seharusnya dimulai ketika sudah lanjut usia. Justru upaya menjaga…
Tabat Barito atau Ficus deltoidea merupakan tanaman herbal yang belum banyak dikenal. Kenali kandungan, penggunaan tradisional, serta berbagai potensi kesehatan yang masih diteliti secara ilmiah.